Pagi ini, kubaca tulisan ttg Pendidikan yang membangun Karakter.
Beberapa catatan penting diposting di blog ini, for further use.
Salah Satu poin penting tugas pendidikan adalah mebangun karakter (character building) anak didik. Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. Kareakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku.
Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam setiap individu bangsa Indonesia diantaranya adalah: cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, tanggung jawab, disiplin dan mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih saying, peduli dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati dan toleransi , cinta damai dan persatuan.
Tuesday, December 15, 2009
Sunday, December 06, 2009
Berenang
Bangun pagi yuk Nak..., hari ini kita berenang ya.
Mas dah pintar di 2 meter, tapi Adik jangan dulu. Ikuti perintah Pak Guru dan lakukan sebaik-baiknya.
Berenang membuat badan segar dan ini salah satu olah raga penting bela diri.
Yuk bangun pagi, makan dulu dan GOOOOOO.
Mas dah pintar di 2 meter, tapi Adik jangan dulu. Ikuti perintah Pak Guru dan lakukan sebaik-baiknya.
Berenang membuat badan segar dan ini salah satu olah raga penting bela diri.
Yuk bangun pagi, makan dulu dan GOOOOOO.
Thursday, December 03, 2009
Concern Queena
Pagi ini Ilham bangun sangat pagi. Jam 3.58 tepatnya 5 menit sebelum subuh....
Setelah azan, langsung diambilnya air wudhu dan Ilham membangunkan Bapak untuk bersama pergi ke masjid.
Tunaikan kewajiban pertamamu hari ini Nak..., ibu dengan gembira siapkan susu coklat hangat untukmu sebagai pelepas dahaga selepas subuh.
Selesai mandi, Ilham makan pagi. Dan jam 5.10, Ilham bangunkan adiknya dengan berulangkali memanggil "Queena..Queena, bangun-bangun" berkali-kali. "Ayo dik, bangun. Kita diantar Bapak ke sekolah hari ini. Makanya Mas bangun pagi-pagi sekali", demikian kata Ilham seraya menggoyang-goyangkan tubuh Queena yang masih terpendam di dalam bantal.
Tak seperti biasanya, Queena terbangun sambil ngambek dan menolak untuk diantar Bapak hari ini ke sekolah.
Seperti biasa, terjadilah pertarungan Ilham dan Queena untuk saling meminta dan menolak pergi ke sekolah bersama Bapak.
Heraaan, sekali. "Kenapa dik? Kenapa kok tumben menolak diantar Bapak ke sekolah pagi ini?", demikian pertanyaan yang kutujukan kepada anak bungsu cantik kami ini.
"Nggak mau! Besok aja pergi ke sekolah sama Bapak... jangan hari ini. Pokoknya adik gak mau!", demikian teriak Queena sambil masuk kamar mandi.
Selesai mandi, Queena tetap menggeleng kepala saat kami semua kembali bertanya padanya apakah mau berangkat bersama Bapak pagi ini. Mata Queena berkaca-kaca, ketika aku menghampiri dan memeluknya sambil membujuk halus agar Queena mau pergi hari ini. Dan Queena tetap menggeleng...., dan suamiku yang kadang keluar "keras"nya kemudian nyeletuk, "Piye to anakmu ini ma... kok keras banget!".
Ilham yang sedang tiduran di kursi panjang akhirnya mengalah "Ya sudah dik... Mas ikut jemputan saja sama adik hari ini. Iya deh.... kita ke sekolah bareng Bapak besok aja".
Tiba-tiba Queena juga teriak, "Gak mau.... Adik mau hari ini!". Lho?
Semua yang di rumah termasuk asisten setia kami, Mbak yah, jadi bingung. Jadi hari ini Mas dan Adik mau ke sekolah bersama Bapak atau dengan jemputan?
Tiba-tiba Ilham memberiku ide karena Ilham sedikit bergumam..... "Paling Abil ya?... permen karet ya?....". Yes, kataku. Kutangkap sinyal "ada sesuatu" dan perlunya komunikasi intens dengan gadis dan perjakaku ini, Queena dan Ilham.
Kuhampiri lagi Queena, dan kubisikkan, "Dik, kenapa? katanya adik mau cerita apa saja sama mama..., ayo cerita", demikian kataku sambil menyeka sisa-sisa air mandi di tubuh gadis rampingku ini.
"Adik mau diberi permen karet sama mbak Abil pagi ini..... Kan nanti pulang mbak Abil gak ikut jemputan, jadi ke sekolah bareng Bapak besok saja....".
Oooooi anakku, terima kasih sudah berterus terang. Jelas sudah semua, sirna sudah semua ketidak kompakanmu dan Mas Ilham pagi ini. Alhamdulilah ya Allah...., sudah kau mudahkan anak gadis kami mengemukakan pendapatnya, dan ini merupakan titik awal yang baik agar semua anggota keluarga bisa mendengar dan memahami mengapa Queena tak bersedia ke sekolah diantar Bapak pagi ini.
Insya Allah, besok pagi semua bangun pagi ya....., Jumat adalah hari yang paling pas ke sekolah bareng Bapak. Good bye semua salah sangka dan sengketa di pagi hari ini.
Terima kasih anak-anakku, binalah terus komunikasi... karena dengan komunikasi, semua masalah akan bisa selesai dengan senyum dan gembira.
alhamdulilahirabbil alamiiin......
Setelah azan, langsung diambilnya air wudhu dan Ilham membangunkan Bapak untuk bersama pergi ke masjid.
Tunaikan kewajiban pertamamu hari ini Nak..., ibu dengan gembira siapkan susu coklat hangat untukmu sebagai pelepas dahaga selepas subuh.
Selesai mandi, Ilham makan pagi. Dan jam 5.10, Ilham bangunkan adiknya dengan berulangkali memanggil "Queena..Queena, bangun-bangun" berkali-kali. "Ayo dik, bangun. Kita diantar Bapak ke sekolah hari ini. Makanya Mas bangun pagi-pagi sekali", demikian kata Ilham seraya menggoyang-goyangkan tubuh Queena yang masih terpendam di dalam bantal.
Tak seperti biasanya, Queena terbangun sambil ngambek dan menolak untuk diantar Bapak hari ini ke sekolah.
Seperti biasa, terjadilah pertarungan Ilham dan Queena untuk saling meminta dan menolak pergi ke sekolah bersama Bapak.
Heraaan, sekali. "Kenapa dik? Kenapa kok tumben menolak diantar Bapak ke sekolah pagi ini?", demikian pertanyaan yang kutujukan kepada anak bungsu cantik kami ini.
"Nggak mau! Besok aja pergi ke sekolah sama Bapak... jangan hari ini. Pokoknya adik gak mau!", demikian teriak Queena sambil masuk kamar mandi.
Selesai mandi, Queena tetap menggeleng kepala saat kami semua kembali bertanya padanya apakah mau berangkat bersama Bapak pagi ini. Mata Queena berkaca-kaca, ketika aku menghampiri dan memeluknya sambil membujuk halus agar Queena mau pergi hari ini. Dan Queena tetap menggeleng...., dan suamiku yang kadang keluar "keras"nya kemudian nyeletuk, "Piye to anakmu ini ma... kok keras banget!".
Ilham yang sedang tiduran di kursi panjang akhirnya mengalah "Ya sudah dik... Mas ikut jemputan saja sama adik hari ini. Iya deh.... kita ke sekolah bareng Bapak besok aja".
Tiba-tiba Queena juga teriak, "Gak mau.... Adik mau hari ini!". Lho?
Semua yang di rumah termasuk asisten setia kami, Mbak yah, jadi bingung. Jadi hari ini Mas dan Adik mau ke sekolah bersama Bapak atau dengan jemputan?
Tiba-tiba Ilham memberiku ide karena Ilham sedikit bergumam..... "Paling Abil ya?... permen karet ya?....". Yes, kataku. Kutangkap sinyal "ada sesuatu" dan perlunya komunikasi intens dengan gadis dan perjakaku ini, Queena dan Ilham.
Kuhampiri lagi Queena, dan kubisikkan, "Dik, kenapa? katanya adik mau cerita apa saja sama mama..., ayo cerita", demikian kataku sambil menyeka sisa-sisa air mandi di tubuh gadis rampingku ini.
"Adik mau diberi permen karet sama mbak Abil pagi ini..... Kan nanti pulang mbak Abil gak ikut jemputan, jadi ke sekolah bareng Bapak besok saja....".
Oooooi anakku, terima kasih sudah berterus terang. Jelas sudah semua, sirna sudah semua ketidak kompakanmu dan Mas Ilham pagi ini. Alhamdulilah ya Allah...., sudah kau mudahkan anak gadis kami mengemukakan pendapatnya, dan ini merupakan titik awal yang baik agar semua anggota keluarga bisa mendengar dan memahami mengapa Queena tak bersedia ke sekolah diantar Bapak pagi ini.
Insya Allah, besok pagi semua bangun pagi ya....., Jumat adalah hari yang paling pas ke sekolah bareng Bapak. Good bye semua salah sangka dan sengketa di pagi hari ini.
Terima kasih anak-anakku, binalah terus komunikasi... karena dengan komunikasi, semua masalah akan bisa selesai dengan senyum dan gembira.
alhamdulilahirabbil alamiiin......
Wednesday, December 02, 2009
Gembira dan Bahagia...
Setiap hari, harusnya selalu kita isi dengan gembira dan bahagia. Gembira karena semalam anak-anak masih meminta kita membacakan cerita, gembira karena pagi ini mereka masih bisa kita suapi dan sisir rambutnya...., gembira karena mereka masih meminta dan memanggil selalu "Mama...mama...". Itu semua akhirnya memberikan bahagia. Lain lagi ceritanya nanti, bila mereka sudah besar... dan sudah bisa melakukan apa saja dengan bantuan mereka sendiri. Permintaan mereka saat ini, harusnya kita sambut dengan gembira dan bahagia.....
Biasanya kita bersyukur bila mendapatkan sesuatu. Setiap saat, harusnya kita bersyukur dengan apapun nikmat yang Allah telah berikan, termasuk hal-hal abstrak di malam hari, seperti permintaan anak-anak di atas, atau bahkan senyuman yang kita terima dari seorang penjual kue di pinggir stasiun Juanda, seperti yang saya alami pagi ini.
Ya... tentunya gembira dan bahagia harus selalu ada, dan memberi semangat kita di hari ini....
Biasanya kita bersyukur bila mendapatkan sesuatu. Setiap saat, harusnya kita bersyukur dengan apapun nikmat yang Allah telah berikan, termasuk hal-hal abstrak di malam hari, seperti permintaan anak-anak di atas, atau bahkan senyuman yang kita terima dari seorang penjual kue di pinggir stasiun Juanda, seperti yang saya alami pagi ini.
Ya... tentunya gembira dan bahagia harus selalu ada, dan memberi semangat kita di hari ini....
Tuesday, December 01, 2009
Snow in Beijing 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)